Nopember 1991. Hujan sore turun dikota yang tenang itu. Kota yang memiliki beberapa ikon kuliner tradisional khas : Nasi Grombyang, Sate Loso dan Lontong Dekem. Nasi Grombyang yang paling ikonik. Kuliner berjenis soto itu, banyak
diminati para penikmat rasa masakan nusantara yang otentik. Di jalan Gatot Subroto sebelah Utara SMAN 1 Pemalang, seberang terminal Sirandu, ada Nasi Grombyang Pak Waridin yang selalu ramai. Ada juga sebelah utara arah Pelutan, di Jl. R.E Martadinata, Nasi Grombyang Pak H. Warso. Kuliner berkuah itu dihidangkan dalam mangkok-mangkok kecil. Nasi, daging dan kuah panas beraroma rempah. Gurih dan segar, memantik selera.
Jalan raya di kota kabupaten itu berkilat, menghitam basah. Masih pukul lima sore, tetapi gelap telah sepenuhnya merambah. Lampu jalan sudah menyala sebagian, memantul di genangan cahaya yang berkilau-kilau di aspal.
Dari arah Jalan Dieng, lima anak lelaki usia belasan memacu sepeda mini BMX-nya. Belok kanan masuk ke jalan utama kota, Jalan Ahmad Yani. Memacu ke arah utara. Beberapa anak yang lain juga keluar dari Jalan Banowati dan Jalan Merbabu dengan sarung disampirkan di pundak, peci hitam bertengger di kepala. Tujuan mereka satu. Menuju kota. Sholat Maghrib di Masjid Agung sekaligus bermain di alun-alun. Melewatkan malam Minggu.
Sepeda mereka warna warni. Ada merah dengan stiker “Turbo”. Ada yang biru dengan rem berdecit. Ada pula yang joknya sobek dan dibungkus lakban hitam.
Ban kecil BMX berputar kencang memercik air. Menyiprat ke wajah ceria mereka. Menyiprat juga ke beberapa orang yang sedang tergesa menyusuri trotoar.
" Bocah uedaaan... semprullll " teriak seorang pemuda yang bajunya terpercik air.
Mengambil kerikil, melempar ke arah roda-roda sepeda yang gesit dikayuh cepat.
Di kanan kiri jalan, toko-toko yang buka sejak pagi, mulai menutup pintu. Aroma tempe mendoan goreng dan minuman Bajigur yang dijajakan sebuah lapak pinggir jalan, bercampur bau tanah basah naik ke udara. Angkot biru tua melintas pelan
dengan sorot lampu kekuningan. Seorang tukang bakso, mendorong gerobak bertuliskan " Bakso Solo Mas Gandung" melintasi Bioskop Sri Indra.
Kota itu tidak ramai. Tidak banyak mobil. Terlebih kala jelang Maghrib dan hujan. Anak-anak terus mengayuh. Melewati toko kaset yang memutar lagu-lagu populer Nike Ardilla, Chrisye, Mansyur S, Tommy Page, Bon Jovi, New Kids On The Block, dari speaker yang bersuara pecah. Melewati bioskop tua yang dibangun tahun
1940-an, yang dindingnya dipenuhi poster-poster film. Film-film yang dibintangi aktor Nasional dan Mandarin : Barry Prima, Advent Bangun, Rhoma Irama, Rano Karno, Jackie Chan, Sammo Hung, Michelle Yeoh. Tampak juga poster bintang film India dan Hollywood ; Amitabh Bachchan, Sri Devi, Mithun Chakraborty, Ajay Devgan,
Michael Douglas, Demi Moore, Patrick Swayze, Harrison Ford, Winona Ryder. Terakhir, melewati kantor pos tua bercat oranye dekat perempatan sebelum arah lampu merah kota.
Di sisi Gedung Olahraga Kridanggo, mereka berhenti. Menarik nafas. Baju kuyup sebagian. Oleh keringat dan cipratan.
Hadi masih duduk di sadel sepedanya. Katanya tiba-tiba :
“Nanti kalau udah gede, kayaknya kita bakal kangen sepedaan gini yaa”
Yang lain mengernyit diam. Kalimat itu terlalu dalam untuk seorang anak SMP yang hidupnya masih sebatas PR matematika dan uang jajan seratus rupiah. Tetapi entah kenapa, di senja basah itu mereka seperti mendengarnya dari dentingan suara hati yang sama. Bergema dalam satu frekuensi yang menelusup halus ke telinga mereka.
Fendy menukas. Matanya yang agak merah terasa perih karena cipratan dari air genangan. Memandangi jalan raya yang mulai berkabut oleh udara lembab. “Emang nanti kita bakal ke mana?”
“Ya merantau lah. Mungkin kuliah, atau kerja. Menikah. Punya anak, haha” jawab Hadi tertawa kencang.
“Cieee,..terus sepeda BMX kita?” sahut Madyo.
Derai tawa Hadi memecah lagi, tapi kali ini lebih landai. “Mungkin, akan dijual Bapak di toko loak pasar pagi”.
Hening sesaat. Zein dan Dodi hanya tersenyum. Mengangguk-angguk.
Masa kecil akan selalu menyelinap. Ia hilang perlahan-lahan dalam kenangan. Diam-diam. Sampai suatu hari kelak setelah dewasa, seseorang mencium bau hujan. Lalu tiba-tiba merasa rindu. Rindu pada sesuatu yang bahkan tidak bisa diulang lagi.
Petir sesekali masih memecut langit sore. Meski hujan telah lerap reda. Di dekat terminal Sirandu, langit berwarna abu-abu pucat. Air menetes dari seng-seng
berkarat warung sederhana disekitar terminal. Mengetuk irama bunyi yang pelan dan sendu.
Di bangku kayu dekat tiang warung yang retak, seorang perempuan usia 50-an duduk berteduh. Membeku. Namanya Rini. Tubuhnya kecil dan kurus. Tangannya kasar dan menghitam karena terlalu lama bersahabat dengan sabun cuci, air sumur, dan pekerjaan-pekerjaan berat yang tak pernah selesai. Pagi hingga siang menjadi buruh cuci baju dan piring di rumah sepasang suami istri yang bekerja menjadi guru di sekolah negeri.
Di pangkuannya ada tas kain lusuh berisi kerupuk rambak untuk dititipkan di
warung-warung kecil. Sesekali ia batuk, menghela nafas. Matanya memandang jauh ke jalanan basah.Tatapan seorang ibu yang terlalu lama hidup bersama kenangan. Bagi Rini, hidup bukan lagi tentang cita-cita atau kebahagiaan besar. Hidup hanya tentang bertahan sampai malam. Lalu bangun lagi esok hari untuk mengulang sepi yang sama.
Namun di dalam dadanya, ada satu ruang rindu yang tidak pernah padam. Rindu kepada anak lelakinya : Santoro.
Nama itu belasan tahun ia simpan seperti bara kecil di tengah hujan. Tetapi hangat di ruang hatinya, setiap kali rindu memeluk ingatannya.
Dulu sekali, saat Santoro masih kecil, mereka tinggal di rumah berdinding papan, beratap genteng. Dindingnya miring, gentengnya banyak yang retak, bocor. Jika hujan turun terlalu deras, air masuk menggenangi lantai ubin. Tetapi rumah itu tetap sumringah. Karena di dalamnya ada tawa seorang anak yang sering merajuk manja pada ibunya.
“Aku lapar, Bu...” kata Santoro suatu malam. Rini tersenyum sambil mengambil nasi yang lembek di ceting tempat nasi dari anyaman bambu. Sengaja diperbanyak airnya, saat menanak. Biar penuh pancinya, ketika nasi masak. Lauknya hanya goreng Ikan Sepat asin, sayur Kangkung. Kangkung yang tumbuh liar di sepanjang kali kecil dekat persawahan. Beberapa kali dalam sebulan, Rini memetiknya. “Sabar ya, Nak. Besok Ibu bekerja lebih lama. Biar dapat lebih banyak uang terkumpul. Nanti kita beli telur ayam. Bikin dadar goreng kesukaanmu"
“ Nggih, Bu. Kalau besar nanti, aku mau bikin rumah bagus buat Ibu. Rumah beratap genteng yang rapat, bertembok kokoh.”
Rini tertawa kecil. Mencium kepala anaknya. “Aamiin. Tetapi rumah bagus itu bukan hanya yang gentengnya rapat, temboknya kokoh, Nak.”
“Terus?”
“Yang juga ada orang saling sayang di dalamnya. Seperti kita. ”
Santoro mengangguk meski belum benar-benar mengerti. Di Usianya yang baru empat tahun, dia hanya mengerti perihal dunia anak-anak yang tak njlimet untuk dipikirkan.
Kemiskinan memang membuat hidup mereka sering rapuh. Terlebih sejak kepergian Candra, suami Rini. Meninggal setahun silam karena tertabrak mobil saat menyeberang jalan.
Sampai suatu hari, semuanya berubah.
Siang itu sebuah mobil mewah sedan BMW Series 5 type E34 warna hitam berhenti di tepi jalan depan rumah. Turun seorang perempuan tua usia 60-an dengan dandanan rapi, tangan kanannya menjinjing tas kecil berkilat. Dia ibunya Candra, namanya Yani. Perhiasannya berkilau. Sepatunya bersih. Tatapannya tajam seperti sedang melihat sesuatu yang memalukan.
Ia memandang rumah itu dengan tatapan sinis yang samar. Mengetuk pintu keras. “Jadi disini cucuku dibesarkan" sambut ketus Bu Yani begitu wajah menantu dan cucunya muncul di pintu.
Rini berdiri mematung.
Santoro bersembunyi di balik tubuh ibunya.
“Aku akan membawanya, ke Jakarta. Kakeknya memintaku untuk mencari dan menjemputnya. Sudah dua hari aku dan Fajri, supirku mencari jejak kalian dikota ini” Kalimat itu jatuh begitu saja. Memalu perasaan yang mendengarnya. Menghantam dingin.
Rini memeluk anaknya erat.
“Jangan... dia anak saya.” “Kamu miskin.”
“Saya ibunya.”
" Tapi jangan lupa,... Candra bapaknya " balas Yani dengan suara meninggi. “Kamu tidak bisa memberinya masa depan.” lanjutnya dengan penuh tekanan.
Rini menahan tangis. “Tapi saya bisa memberinya sejuta kasih sayang ” Perempuan tua itu tertawa tipis. “Kasih sayang? Sekedar kasih sayang tidak bisa membeli kehidupan dan masa depan”
Rini menatap lurus perempuan itu. Untuk pertama kali dalam kemiskinannya, Rini berbicara tanpa takut.
“Kadang orang kaya terlalu lama hidup bersama uang. Sampai lupa...” suara Rini bergetar, “...bahwa manusia tidak hanya hidup dari kenyang dan kesombongan.” Perempuan tua itu diam.
Namun akhirnya Santoro tetap dibawa pergi. Tubuh Fajri yang besar membopongnya.
Santoro meronta, menangis histeris dari dalam mobil. “Ibuuuu! Ibuuu!”
Rini berlari mengejar. Tapi mobil yang dikemudikan pria besar itu terlalu kencang membelah jalan. Beberapa tetangga hanya berdiri terpaku, melihat dari kejauhan. Sejak hari itu, hidup Rini seperti pohon yang patah separuh batangnya.
Ia masih hidup. Tetapi tidak lagi utuh.
Pernikahan Rini dan suaminya memang tidak direstui keluarga Pak Dodo dan Bu Yani, orangtua Candra. Perbedaan kelas sosial mereka terlalu jauh. Rini hanya anak seorang buruh serabutan. Saat menikah, pihak keluarga laki-laki tak ada yang hadir. Bahkan ketika Santoro lahir, mereka masih belum dianggap sebagai bagian dari keluarga suaminya. Hingga kemudian keluarga Pak Dodo pindah ke Bekasi, karena bisnisnya berkembang pesat disana.
Dua puluh tahun berlalu. Orang-orang berubah. Kota berubah. Nasib manusia terus berganti. Roda kehidupan terus dipergulirkan.
Tetapi seorang ibu senantiasa teguh menunggu. Selama apapun itu.
Sore itu di luar terminal Sirandu, Rini sedang membereskan kerupuk rambak ketika tasnya terjatuh. Bungkus-bungkus kerupuk berserakan di tanah basah. Dia tadi terlelap sejenak di tempat duduknya. Terbangun ketika suara seorang pemuda membantu memungutinya. Menyerahkan bungkusan kerupuknya.
“Ini, Bu...” Rini mendongak.
Seorang pria muda dengan tangan kiri memegang gagang payung, berdiri di depannya. Tinggi. Rapi. Mengenakan kemeja merah tua lengan panjang yang di kelindan setengahnya. Bajunya rapi dimasukkan ke celana panjang hitam. Wajahnya teduh.
Ada sesuatu di mata lelaki muda itu.
Sesuatu yang membuat dadanya tiba-tiba terasa sesak. “Terima kasih, Nak...” katanya pelan.
Pemuda itu tersenyum. “Ibu sendirian ?” “Iya, Nak.”
“Rumah jauh kah?”
“Tak terlalu jauh. Di Pinggiran kota, dekat persawahan. Naik kendaraan umum hanya satu kali.”
Pemuda itu mengangguk pelan.
Entah kenapa ia belum pergi. Payung lebar hitamnya yang tadi diletakkan di sisi warung bergeser sedikit, tertiup angin.
Hujan menderai lagi, deras semakin rapat di luar terminal. Pria itu duduk di bangku sebelah Rini.
Beberapa detik mereka diam mendengar suara hujan. Lalu pria itu berkata pelan, “Aneh ya, Bu... semakin dewasa, manusia semakin ramai hidupnya. Tapi semakin sulit merasa punya rumah.”
Rini tersenyum samar. “Kamu merantau,Nak?”
“Iya. Saya dari Bekasi. Kerja di Pekalongan”
“Alhamdulillah. Sepertinya njenengan sudah jadi orang nggih?” Pria itu tertawa kecil hambar. “ Ibu bisa saja"
" Pada penglihatan ibu begitu"
" Iya, mungkin. Orang bilang begitu " " Disyukuri mawon, Nak"
“Nggih, tapi saya sering merasa kosong.”
Beberapa bulan lalu, Perusahaan kakeknya membuka cabang di Pekalongan. Santoro diangkat sebagai Manager Marketing disana. Hari ini, Santoro meluangkan waktu mencari ibunya. Sudah kedua kali, dia ke kota ini. Mencari ibunya. Karena hujan deras dia menepikan mobil bergaya sporty Toyota Corolla Twincam GTi warna putihnya di luar terminal Sirandu. Untuk mengenang juga. Saat kecil beberapa kali dia diajak ibunya ke Terminal. Naik bus perempat 'Jawa Dwipa' ke Pekalongan.
Rini masih memandang hujan, berkata:
“Karena hidup bukan cuma soal berhasil.”
Santoro, lelaki muda itu menoleh. Menghentikan lamunannya.
Rini melanjutkan pelan, “Kadang manusia menghabiskan hidup mengejar banyak hal... lalu pulang sebagai orang asing bagi dirinya sendiri.”
Kalimat itu membuatnya diam lama.
Tubir hatinya terasa disentuh oleh sesuatu yang lama hilang.
Ia memandang perempuan kurus di sampingnya. Kerudung lusuh. Tangan kasar. Wajah lelah. Tetapi suaranya hangat.
Sehangat sesuatu yang samar-samar pernah ia kenal waktu kecil.
Sekilas matanya tertuju pada jari kelingking kiri milik Rini. Nafasnya tercekat. Jari kelingking itu. Jari kelingking bercabang. Seperti dahan pohon yang belok membentuk cabang kecil ke arah luar. Rasanya sedikit sekali orang dibumi, yang
memiliki keistimewaan ini. Seakan terlihat berjari enam. Satu kota, barangkali hanya ibunya, yang memiliki jari kelingking seperti itu.
Rini tergeragap. Menutup jari kirinya. Menangkupkan tangan kanan diatasnya. Menyadari pemuda itu memperhatikan jari kelingking kirinya.
Santoro merasa canggung.
"Maaf, Bu. Mohon maaf jika tadi saya lama memperhatikan jari kelingking Ibu" "Mmhh, nggih Nak. Mboten nopo-nopo. Jari kelingking ibu memang aneh,kok. Sejak kecil Ibu sudah terbiasa dengan tatapan janggal.
Dengan dada berdegup lebih kencang, suara yang bergetar, Santoro bertanya : "Nama Ibu sinten, nggih? Apakah nama Ibu Ri....................... " Wanita itu menyela sebelum
kalimat Santoro selesai.
"Apakah penting nama Ibu, Nak. Ibu hanya wanita tua yang blangsak. Tak ada yang menganggap Ibu punya nama" Dia terbawa perasaan yang rapuh. Karena kesunyian dan penderitaan panjang yang seakan mengikuti nasib hidupnya kemana pun langkahnya terayun pergi. Hanya pada Rabb-nya dia biasa terisak dan mengadu diri.
"Nggih, saya memahami kalo ibu keberatan. Tak apa. Tapi bolehkah saya tahu nama anak lelaki Ibu?" Dengan nada sangat lembut.
Rini terdiam beberapa detik.
Seolah nama itu terlalu suci untuk diucapkan sembarangan. “Toro, Nak. Santoro"
Pria itu menunduk, menahan air mata. Menekan punggung tangannya di kedua matanya. Menahan lelehan beningnya.
Tangannya gemetar.
“Apa Ibu... masih menunggunya?” tanya Suntoro lirih. Meski dadanya sebenarnya hendak pecah karena bungah. Sekuat hati, untuk menahannya.
Rini tersenyum tipis, tetapi matanya basah. “Seorang ibu tidak berhenti menunggu, Nak.” Santoro menatapnya.
Rini melanjutkan, “Kadang anak pulang sebagai pelukan. Kadang pulang hanya sebagai kabar. ibu tetap menunggu.”
“Apa Ibu marah... kalau anak itu tidak kembali bertahun-tahun?” Rini menggeleng pelan.
“Seorang ibu itu jenis makhluk aneh, Nak". "Aneh?"
"Iya, Seorang ibu lebih mudah memaafkan anak daripada memaafkan diri sendiri.” Pria itu kini menangis diam-diam.
“Apa Ibu pernah membenci hidup?”
Rini tersenyum kecil, kembali menatap hujan yang belum reda. “Pernah.”
“Lalu?”
“Tapi saya sadar... hidup kadang mengambil sesuatu dari kita. Agar kita mengerti arti kehilangan. Dan kehilangan membuat manusia belajar mencintai dengan lebih dalam.”
Pria itu menutup wajahnya sesaat.
Lalu dengan suara pecah ia memanggil, “Ibu...” Rini menoleh.
“ Nama suami Ibu...Candra kan?”
Rini menatap lekat. Matanya mulai ngembeng, menahan tangisan.
Wajah lelaki muda itu kelihatan samar, air matanya mengabut menyamarkan pandanganannya. Ia seperti melihat anak kecil yang dulu suka memanggilnya sambil tertawa.
"Santoro....kamu Santoro, Nak? Anakkuuu...” Tangisnya pecah. Tergugu-gugu membuncah.
Rini mengguncang bahu Santoro. Menariknya. Mendekap tubuh anak yang selama ini ditunggunya. Santoro menyambut, mendekapnya. Saling berpelukan. Rapat.
Baju bagian atas mereka basah. Dialiri banjir air mata.
Hujan telah reda. Orang-orang masih berlalu lalang. Keluar masuk arah terminal. Tetapi bagi ibu dan anak yang baru bertemu, dunia seperti tengah jeda sejenak. Seorang ibu miskin dan anak lelakinya yang lama terpisah, akhirnya dipertemukan kembali oleh waktu.
Dan kadang, begitulah hidup.
Dua jiwa yang dijauhkan oleh keadaan. Dipisahkan oleh kesombongan. Dihilangkan oleh waktu. Kun fayakun, kembali dipertemukan.
Jika doa seorang ibu terus dipanjatkan, harapan-harapan yang selalu melaung di panahkan ke langit malam, maka sejauh apa pun seseorang anak pergi, ia akan menemukan jalan pulang. Ke sosok ibu, seorang yang memiliki rahim : dimana dia pernah sembilan bulan tinggal nyaman didalamnya.
âś“ Kotapadi, Mei 2026
âś…Cerpen semata fiksi