Pemalang kembali memasuki fase waspada banjir. Curah hujan tinggi, aliran sungai yang meluap, serta drainase yang tersumbat dapat membuat air cepat naik di permukiman. Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah bergerak cepat dan terukur. Berikut 5 langkah praktis yang bisa dilakukan warga agar lebih aman, sehat, dan siap menghadapi banjir.
1) Amankan dokumen dan barang penting sejak awal
Jangan menunggu air masuk rumah. Siapkan satu tas khusus berisi dokumen (KTP, KK, BPJS, ijazah), uang tunai secukupnya, obat rutin, serta charger dan powerbank. Bungkus dengan plastik kedap air atau dry bag. Barang elektronik (TV, komputer, router) sebaiknya diangkat ke tempat lebih tinggi. Jika punya motor, parkir di area yang tidak rawan genangan.
2) Matikan listrik dan gas untuk mencegah korsleting
Saat air mulai naik, risiko korsleting meningkat. Cabut perangkat listrik, naikkan MCB bila memungkinkan, dan pastikan colokan tidak terkena air. Kompor gas dan tabung gas juga sebaiknya diamankan. Jika Anda ragu, prioritaskan keselamatan: jangan menyentuh instalasi listrik dalam kondisi basah.
3) Siapkan air bersih dan makanan yang aman
Banjir sering membuat sumber air tercemar. Simpan air minum kemasan atau masak air hingga mendidih sebelum dikonsumsi. Siapkan makanan siap santap yang tahan lama: biskuit, roti, abon, makanan kaleng, dan susu UHT. Hindari mengonsumsi makanan yang terendam atau berbau aneh, karena berisiko menyebabkan diare dan keracunan.
4) Jaga kesehatan: cegah diare, leptospirosis, dan penyakit kulit
Air banjir bukan “air biasa”. Di dalamnya bisa bercampur kotoran, limbah, dan bakteri. Jika terpaksa berjalan di genangan, gunakan sepatu boots atau sandal tebal, lalu segera cuci kaki dengan sabun setelahnya. Tutup luka dengan plester tahan air. Bila muncul demam tinggi, nyeri betis, mata merah, atau badan sangat lemas setelah kontak air banjir, segera periksa—ini bisa mengarah ke leptospirosis. Untuk anak-anak, pantau diare dan dehidrasi: jika buang air cair berulang, lemas, atau sulit minum, jangan menunda ke fasilitas kesehatan.
5) Pantau informasi resmi dan siapkan rute evakuasi keluarga
Ikuti info dari RT/RW, BPBD, aparat desa, atau kanal resmi pemerintah daerah. Hindari berita simpang siur. Tentukan titik kumpul keluarga dan rute evakuasi yang aman. Prioritaskan kelompok rentan: lansia, ibu hamil, bayi, dan penyandang disabilitas. Jika rumah mulai tidak aman, evakuasi lebih cepat selalu lebih baik daripada menunggu kondisi memburuk.
Banjir memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa dikurangi jika warga sigap. Mulailah dari hal sederhana: tas siaga, pemutusan listrik yang aman, persediaan air dan makanan, perlindungan kesehatan, dan rencana evakuasi yang jelas. Semakin cepat kita siap, semakin kecil risiko kerugian dan penyakit pascabanjir.
dn1