ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Renungan

Uji Adab dalam Berbeda Pendapat : Di Mana Level Komunikasi Kita?

Uji Adab dalam Berbeda Pendapat : Di Mana Level Komunikasi Kita?

Ada satu kisah yang menarik tentang Imam Syafi’i, seorang ulama besar yang keluasan ilmunya diakui dunia. Suatu hari, beliau terlibat perdebatan sengit mengenai suatu masalah fikih dengan muridnya yang cerdas, Yunus ash-Shadafi. Perbedaan pendapat itu begitu tajam hingga membuat Yunus merasa sangat marah dan memutuskan untuk meninggalkan majelis. Namun, apa yang terjadi kemudian adalah sebuah teladan abadi tentang adab. Malam harinya, Imam Syafi’i mendatangi rumah Yunus. Beliau tidak datang untuk memperpanjang debat atau membuktikan bahwa dirinya yang paling benar. Beliau justru memegang tangan muridnya dan berkata dengan lembut, "Wahai Abu Musa, tidakkah kita tetap bisa bersaudara meskipun kita tidak sepakat dalam suatu masalah?"

Kisah ini adalah cermin besar bagi kita semua saat berada dalam ruang musyawarah. Sering kali, forum yang seharusnya menjadi ruang mulia untuk mencari solusi justru berubah menjadi medan perang ego. Kita perlu merenung sejenak dan mengenali di level mana sebenarnya cara kita berkomunikasi selama ini.

Level yang paling dasar adalah Level Emosional. Di tingkat ini, musyawarah bukan lagi tempat mencari kebenaran, melainkan arena untuk menjatuhkan. Ciri utamanya adalah serangan pribadi atau ad hominem. Saat kita tidak setuju dengan sebuah ide, yang kita serang justru latar belakang orangnya, masa lalunya, atau kelompoknya. Kita lupa pada pesan Rasulullah ﷺ bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, yang tidak boleh dizalimi apalagi direndahkan. Jika kita masih merasa puas saat berhasil mempermalukan lawan bicara di depan forum, itu tandanya komunikasi kita masih terjebak di level yang paling rendah.

Naik satu tingkat, kita masuk ke Level Intelektual. Di sini, kita sudah lebih dewasa karena yang diadu adalah argumen, data, dan logika. Kita tidak lagi mencaci orangnya, tetapi sibuk membedah gagasannya. Ini adalah kemajuan yang baik, namun sering kali masih ada satu lubang tersembunyi, yaitu penyakit "ingin terlihat paling benar." Di level ini, kita terkadang masih merasa malu atau gengsi jika harus mengakui bahwa ide orang lain ternyata lebih cemerlang. Kita bertahan pada pendapat sendiri bukan karena manfaatnya, tapi karena tidak ingin terlihat kalah dalam berdebat.

Level tertinggi yang menjadi dambaan setiap jiwa yang tenang adalah Level Spiritual. Di tingkat ini, adab diletakkan jauh di atas kecerdasan. Fokus utamanya bukan memenangkan diri sendiri, melainkan menjemput kebenaran dari mana pun datangnya. Sebagaimana Imam Syafi’i yang selalu berdoa agar Allah menampakkan kebenaran melalui lisan lawan bicaranya, ia tidak peduli siapa yang tampak hebat, yang ia pedulikan adalah maslahat bersama.

Musyawarah yang sehat adalah musyawarah yang berani menguji gagasan tanpa sedikit pun melukai martabat manusianya. Mari bertanya pada diri sendiri: dalam setiap diskusi, apakah kita sedang mencari solusi yang membawa manfaat, atau sekadar sedang memberi makan pada ego yang haus pengakuan? Sebab, gagasan yang kuat akan tetap berdiri tegak tanpa perlu menjatuhkan harga diri siapa pun.

Terbaru di Renungan
Lihat semua →
Nguwongke: Bukan Soal Harga, Tapi Soal Rasa
Nguwongke: Bukan Soal Harga, Tapi Soal Rasa
18 Mar 2026 · 19x
Apa yang Membuat Kita Puas dalam Hidup?
Apa yang Membuat Kita Puas dalam Hidup?
27 Feb 2026 · 27x
Puasa dan Banjir
Puasa dan Banjir
22 Feb 2026 · 20x
Rahasia di Balik Berpikir Saat Puasa
Rahasia di Balik Berpikir Saat Puasa
22 Feb 2026 · 34x