ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

Istana Cahaya untuk Mas Khum

Istana Cahaya untuk Mas Khum

Di suatu malam... Toto  melihat sebuah rumah bagai berlapis emas yang bercahaya. Atapnya berkubah-kubah. Kubah yang paling tengah dan paling tinggi, ukurannya paling besar. Sangat indah. Tiada pernah ia lihat rumah seindah itu. Hatta rumah-rumah konglomerat sembilan naga. 

Di bawahnya mengalir sungai-sungai yang jernih dan putih. Apakah itu sungai arak (yang tidak memabukkan) dan sungai susu? Sementara keberadaan taman-tamannya pun menambah keelokan bangunan itu. Namun tidak nampak burung-burung di dahan-dahan tanaman dan pepohonan tamannya. Tidak pula terdengar suara kicaunya yang biasanya memanjakan telinga. Suasana begitu hening. 

Rumah itu dalam pandangan Toto, tidak terlihat jauh. Tidak juga terlihat dekat. Sedang saja nampaknya. Pertengahan. Itulah jarak antara ia dengan rumah bagai istana berlapis emas  itu. 

Suasana hari nampak tidak terlihat sebagai malam. Tidak pula  sebagai siang. Langit cuaca stagnant. Tidak ada awan. Tidak ada mendung. Tidak Ada sinar mentari. Tidak ada cahaya bulan. Tidak ada bintang gemintang berkerlip menghias langitnya. Cahaya redup namun nampak jelas pemandangan itu. 

Cahaya emas yang terpancar dari rumah itu, dari kubah-kubahnya, hingga dinding, pilar, jendela serta pintunya berpendar-pendar. Namun tiada menyilaukan. Sejuk di mata. Adem dirasa. Rumah surga itu bagai istana kerajaan yang besar. Mempunyai banyak kamar-kamar. Mungkin disitulah bidadari-bidadarinya menunggu Mas Khum. 

"Rumah Mas Khum..." Suara dalam batin Toto, adik  laki-lakinya Khumedi. 

"Masya Allah. Ternyata aku habis bermimpi. Mimpi yang sangat indah. Jelas. Seakan dalam alam nyata," gumamnya setelah bangun tergeragap dari lelap tidurnya. Ungkapan merajuk, "Rumah Mas Khum..." tadi di atas itu adalah suara batin mimpinya Toto. Rumah itu benar-benar bagai istana seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnu Abbas ra., "Surga itu –demi Allah- adalah cahaya yang bersinar terang. Baunya wangi semerbak. Dengan bangunan istana yang megah. Sungai yang mengalir di bawahnya tidak pernah kering. Tersaji di dalamnya buah-buahan segar..." 

Gambaran rumah itu juga seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam suatu haditsnya, “Batu batanya terbuat dari emas dan perak. Semennya dari minyak misk yang wangi. Kerikilnya dari permata dan yaqut. Tanahnya dari za'faran. Barangsiapa yang masuk dia akan mendapat kenikmatan yang tidak pernah kosong. Kekal tidak pernah mati. Pakaianya tidak pernah rusak. Selalu dalam usia muda.” Penghuninya tidak pernah tua. Tidak pernah tiada. 

Ya, itulah mimpi Toto di suatu malam, setelah beberapa hari kakak lelaki yang pertamanya; yang sangat dikaguminya; sekaligus disayangi serta dicintainya, Khumedi, meninggal dunia. Ia Meninggal dengan cara yang sangat mengejutkan keluarga besarnya, terutama keluarganya Toto di Jawa... Ia meninggal mendadak. Meninggal di rantau jauh. Seberang pulau. Pulau Borneo. Kalimantan. Tepatnya kota Samarinda. 

Selepas mendapatkan mimpi tentang kakaknya itu, Toto menghubungi kakak iparnya (istri Khumedi), Dina, melalui handphone. Ia berkata, "Mbak, aku  telah bermimpi indah dalam tidurku: Mas Khum mempunyai rumah berkubah-berkubah dan berlapis emas yang bercahaya, namun tidak menyilaukan." 

"Masyaa Allah...," sahut Dina di seberang, "benarkah, To?" sambungnya.
"Iya, Mbak," jawab Toto, "seakan nyata aku menyaksikannya," sambung Toto meyakinkan. "Seakan aku melihatnya dengan mata kepala sadar, Mbak."

"Semoga Mas Khum diampuni segala dosa-dosanya dan tenang bahagia di sisi-Nya,"    timpal Dina kemudian, "mendapatkan tempat yang indah seperti dalam mimpimu, To."

"Aamiin aamiin aamiin yaa Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang," sambut Toto dengan berlinang air mata haru. Dia teringat semua kebaikan-kebaikan kakak laki-laki pertamanya itu. Ketika Toto kuliah dulu di Yogyakarta, dia sering diajak healing oleh kakaknya itu ke Malioboro. Dan yang sangat berkesan adalah pasti mengajaknya tamasya buku di _shopping center_ sebelah selatan Pasar Beringharjo. Dan... _surprise_ -nya membelikan mesin ketik _Brother_ . 

Kemudian selepas Toto wisuda, sambil menunggu panggilan kerja dari perusahaan-perusahaan, ada hal yang lebih lebih berkesan lagi. Dengan modal buku-buku juga mesin ketik _Brother_ tadi, dia menyibukkan diri dengan menulis dan menulis. Dengan bismillah, dia memberanikan diri langsung mengirimkan tulisan-tulisannya ke media-media cetak nasional. Koran dan majalah. _Republika, Annida,_ ... _Blessing of Allah_ , tulisan-tulisan yang untuk pertama kalinya dikirim itu, semuanya dimuat media massa nasional tersebut. Sangat _surprised._ Karena biasanya, pengalaman dari penulis-penulis besar semisal Gunawan Moehammad dll., tulisannya baru bisa lolos dari skrining dewan redaksi setelah berusaha mengirim  tulisannya berkali-kali. Sepuluh dua puluh lima puluh seratus kali. Yang kadang bikin mereka hampir-hampir menyerah.

Sementara itu beberapa hari sebelum Toto bermimpi tersebut, Dina, dalam keadaan sedang menangis, menunggu di depan ruang bedah. Di dalamnya, dokter bedah syaraf sedang melakukan bedah kepala suaminya. Ia sangat cemas. Udara pagi depan ruang operasi yang seharusnya sejuk, saat itu baginya terasa panas memeras keringat. Tanam-tanaman depan ruang yang melambai-lambai gemulai tidak mampu menenangkan dan menyejukkan tubuh dan hatinya. Hati penuh gejolak harap-cemas terhadap keselamatan suaminya. 

Terhitung dari pukul sembilan pagi sampai jam duabelas siang WITA, Samarinda, dokter belum keluar dari ruang bedah itu. Cuaca makin panas, hati pun kian bergelora dalam kepanikan. Sangat cemas, khawatir memikirkan nasib suaminya. 

Dina teringat suaminya sebelum terkena stroke dan koma. Suaminya  bangun tidur mau shalat subuh. Seperti biasanya ia langsung membuka kulkas dan mengambil botol air putih dingin di dalamnya. Sambil menunggu istrinya itu keluar dari kamar mandi, ia rebahan di springbed depan TV. Ketika Dina keluar dari kamar mandi, ia mendekatinya, dan merajuk, "Innalillahi..." Ternyata dari kedua sudut mulutnya keluar darah berbusa. Ia goyangkan tubuh suaminya pelan, ternyata tetap diam. Koma. 

Ia spontan menangis, "Hik...hik..." Ia panik dan tak mampu lagi mengendalikan perasannya.. Pecahlah tangis kerasnya 

Selanjutnya  Ia menjerit histeris,  "Papa..., bangun, Pa...hik...hik... Jangan tinggalkan aku...Jangan tinggalkan anak-anak kita yang masih kecil." 

Mendengar jerit tangisannya, tetangganya pada datang. Mereka menghubungi kontak ambulance rumah sakit terdekat. Tidak lama kemudian, ambulance RS Samarinda Medika pun tiba. Petugasnya dengan segera mendatangi tubuh Khumedi yang terdiam. Dengan cekatan tapi hati-hati, mereka menandu dan membawanya lalu memasukkannya ke ambulance. Dina mengikutinya. Masuk ke mobil di sebelah sopir. Masih dengan wajah penuh sedih dalam air mata. 

Akhirnya, tepat pukul tiga belas WITA, dokter bedah keluar dari ruangan. Dina langsung memapagnya dan bertanya tergesa, "Gimana, Dok, suamiku...?" Dokter belum sempat menjawab, Dina dengan cepat lanjut bertanya, "Sukses operasinya...Sukses, Dok?" 

"Dengan menyesal..." jawab dokter, "saya sampaikan bahwa suami Anda gagal kami selamatkan. Suamimu meninggal, Bu..."

"Papa...hik! hik! hik!..." jerit tangis Dina pecah tak terbendung. "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun..." gumam seorang ibu-ibu tetangganya yang mendampinginya. "Sabar ya, bu, saya ikut berbela sungkawa atas meninggalnya bapak Khumadi."

Dina berlari ke ruang operasi yang ditinggalkan dokternya, lalu menubruk tubuh suaminya yang sudah membujur kaku. "Pap...pa...kenapa Papa cepat meninggalkan aku dan anak-anak kita yang masih kecil-kecil...hik! hik! hik!..."

Belasan tahun kemudian, Rayyan, anak barep Khumedi, lulus SMA di sebuah pondok pesantren Tangerang Banten sana (wilayah yang didirikan oleh Sultan Hasanudin, putera Sultan Cirebon, Sultan Syarif Hidayatullah). Pondok Pesantren _Kejujuran_ namanya.

Prestasi Rayyan _wonderful_ . Menakjubkan. Membanggakan. Nilai rapornya sangat sangat bagus. Kemampuan pelajaran eksaktanya mewarisi kecerdasan ayahnya yang sudah meninggal. Selalu ranking satu... Dan lebih menakjubkan lagi, dia menjadi al hafidz. Hafal al Qur'an tigapuluh juz. Masyaa Allah... Tabaarakallah.

Kini, setelah berpuluh tahun kematian ayahnya, Rayyan, anak Khumedi yang jadi dokter spesialis bedah syaraf, sedang mengoperasi, menangani orang yang mengalami kasus yg sama dengan yg dialami oleh ayahnya dulu: pendarahan otak (hemoragik). 

Rayyan jadi teringat ayahnya yang disayanginya itu. Ayahnya, yang seorang insinyur perminyakan, dulu,  selepas lulus dari _SMA Favorit_ Pemalang, diterima tanpa tes (PMDK) di _PTN Kerajaan Siliwangi_ Bandung. Namun karena tidak cocok, setahun kemudian pindah ke Teknik Perminyakan _Universitas Pejuang Kemerdekaan_ di kota pelajar Yogyakarta. Setelah wisuda sarjana,  dia ditawari bekerja di Pertaminax, namun menolak. Dia lebih memilih bekerja di _PT Susu Berkibar_ . Beberapa tahun saja. Kemudian pindah ke _PT Farmasi Sembilan Naga_ . Hingga terakhir mencapai puncak karirnya menjadi kepala cabang kantor Samarinda. _Wonderful_ juga. Dia menjadi satu-satunya pribumi yang didapuk menjadi kepala cabang. Selainnya semua WNI keturunan.

Dokter Rayyan, memasuki kedokteran _PTN Supersemar_ Solo juga tanpa tes. Sebuah barakah dari seorang anak yatim yang hafal al Qur'an. Di akhirat nanti, insyaa Allah, akan memakaikan mahkota  kehormatan kepada ayahandanya yang meninggalkannya ke alam baqa' di masa kecilnya.

"Mungkinkah juga itu adalah takwil mimpiku, yaa Allah...?" gumam Toto suatu saat ketika Rayyan disumpah menjadi dokter yang sekaligus al hafidz. Sayang Toto tidak bisa mendampingi, menyaksikan langsung sumpah dokternya karena tragedi covid-19.

Arto Latief
Pemalang 150426

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
25 Apr 2026 · 10x
Antara Bara dan Hidayah
Antara Bara dan Hidayah
24 Apr 2026 · 10x
Pria Tua di Warkop Lik Seno
Pria Tua di Warkop Lik Seno
24 Apr 2026 · 325x
Lidah Beracun
Lidah Beracun
23 Apr 2026 · 30x
Pohon itu Tumbang
Pohon itu Tumbang
20 Apr 2026 · 52x
Warisan Sujud Makdhe
Warisan Sujud Makdhe
15 Apr 2026 · 677x
✍️Kenangan : Sepeda Jengki Tua
✍️Kenangan : Sepeda Jengki Tua
19 Mar 2026 · 160x
Aku Bukan GURU, Hanya TEMAN BERMAIN
Aku Bukan GURU, Hanya TEMAN BERMAIN
28 Feb 2026 · 53x