Lisus kecil berputar dari arah tanah lapang seberang warung kopi Lik Seno. Merangkum debu, sobekan plastik dan remah kertas kedalam pusaran kencang, seakan gasing yang tengah dimainkan anak-anak dihalaman. Angin layuh yang terus deras berhembus, menghamburkan dedaun kering yang berserak di sebagian jalan aspal desa.
El Nino Super di tahun 2026 ini, berdampak pada musim kemarau yang datang lebih awal di sebagian pulau dan daratan. Kenaikan suhu permukaan air Samudra Pasifik sebelah timur dan tengah juga ikut mengurangi pembentukan formasi gerumbul awan pembawa hujan di bumi khatulistiwa.
Pak Mus telah keluar dari mushola kecil di pinggiran desa. Mushola beratap genteng dengan kubah kecil berlapis bahan alumunium berkilat. Kilatan yang menyilaukan saat ditimpa terik cahaya siang. Meski sebagian sisi-sisinya telah berkarat. Para jama'ah akan patungan untuk
mengganti dengan kubah baru jika sudah parah korosinya, karena tak elok lagi dipandang mata. Mereka akan memesannya di Lik Soklin, pengrajin kubah di kota kecamatan.
Usai menunaikan sholat Ashar berjamaah, biasanya Pak Mus, pensiunan Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Keuangan datang ke warung Kopi "Jagongan" punya Lik Seno. Dia akan selalu mengambil kursi di sudut belakang, dekat jendela terbuka yang di pasang anyaman ram kawat. Dari posisi di situ, Pak Mus bisa bebas melihat aliran sungai kecil dan mendengar anak-anak yang bermain kecipak air. Berenang dengan dada telanjang. Mendengar tawa mereka yang menderai jelas. Saling meledek, saling teriak. Lalu terdengar pecah tawa terbahak-bahak.
Hatinya yang sunyi akan ikut riuh dan hangat kembali. Senyumnya sejenak mengulas sekilas, usai mendengar tawa anak-anak yang lepas.
Hanya di warung kopi Lik Seno ini, Pak Mus menemukan tawa dan hati yang gembira. Orang-orang ramai keluar masuk, sekedar duduk menyambut harum bau kopi yang diaduk. Mulut mereka takzim mengunyah pisang goreng yang berasa manis dan empuk. Tubuh diam menetap, pikiran berseliweran ngelayap.
Karena di rumah, Pak Mus selalu sendiri. Rumah yang dulu dibangun orang tuanya. Rumah yang berdiri di tepi kelokan jalan. Meski catnya telah memudar dan sebagian dindingnya retak, namun baginya masih hangat, hidup, dan penuh cerita. Tak ingin Pak Mus merombak atau sekedar mengecatnya. Tak ingin rumah itu menjadi baru, yang menghadirkan rasa asing.
Di ruang tamu, bangku panjang berukir Jepara dimana bapaknya dulu biasa merebah sepulang dari sawah, juga masih ada. Pak Mus membayangkan bapaknya masih di sana, dengan senyum tipis dan Suara Bariton menenangkan yang selalu membuatnya merasa aman.
Di sudut ruangan, ada meja kecil tempat ibunya menaruh vas bunga. Bunga itu selalu segar. Entah dipetik dari halaman, atau pemberian Lik Triana, tetangganya. Ibu pernah berkata, “Rumah itu sumringah kalau ada yang dirawat dan hidup didalamnya ”.
Saat itu Pak Mus belum benar-benar mengerti, tapi kini setiap sudut rumah menjelaskan maknanya. Saat semuanya telah tiada. Saat dia kembali kerumah masa kecilnya.
Dari semua bagian rumah, Pak Mus sejatinya paling menyukai dapur. Baginya, dapur tempat paling hangat di rumah. Bukan karena api di tungku semata, tapi karena cerita dan tawa yang sering hadir disana. Disela ibu mengolah bumbu, bapak mengaduk nasi di panci, dan Pak Mus kecil bertugas meniup tungku untuk membesarkan nyala api.
Alat untuk meniup tungku terbuat dari batang bambu seukuran lengan bayi. Ujungnya akan hitam gosong karena terlalu dekat dengan bara api saat digunakan.
Bapak dan ibunya sudah lama pulang dipanggil Sang Pemilik Kehidupan. Sebagai anak tunggal, Pak Mus selayaknya memiliki panggilan hati untuk merawat rumah peninggalan. Sambil mengingat kehadiran mereka, disetiap sudut rumah. Disetiap jejak kenangan yang pernah dilalui bertiga bersama.
Lik Seno mencolek bahu Pak Mus sopan :
" Ngapunten,...biasa Pak, kopi hitam sama setalam goreng pisang ?"
Pak Mus tergeragap. Mengangguk, tersenyum. Menyadari telah langut melamun. Sebuah anggukan sudah cukup bagi Lik Seno untuk menyiapkan pesanan yang baru saja dia tawarkan. Beberapa kali mereka berbincang saat awal-awal Pak Mus ke warung kopinya. Itu beberapa tahun lalu. Hanya sedikit bercerita, perihal dirinya yang telah pensiun, istrinya yang sudah meninggal. Dua anaknya yang telah berkeluarga masih tinggal di kota. Sesekali dia pergi menengok kedua anak dan cucu-cucunya. Hanya beberapa hari di kota. Kenangan dan keheningan tempat masa kecilnya, selalu menuntun pikirannya untuk bergegas kembali ke desa lagi.
Di lingkup pergaulan desa, Lik Seno sebenarnya sudah tahu, tanpa Pak Mus bercerita. Terlebih dia mengelola warung kopi, dimana informasi apa saja keluar masuk dibawa para pelanggan setianya.
Sejak kedatangan pertama, hampir setiap sore, pria berusia hampir 70 tahun itu, datang ke warung Lik Seno.
"Biasa ya pak" begitulah Pak Mus memesan. Seiring waktu, hanya senyumnya yang menyapa. Tanpa terucap sepatah kata. Dan Lik Seno sudah tahu, apa yang dipesan dan kemana pria itu akan duduk.
Hari ini, di awal bulan Mei ketika warung ramai karena tanggal muda, Pria tua itu tak kunjung datang. Ketika sore kian surup ke arah barat. Ketika ada seorang anak muda akan menempati kursi yang biasa Pak Mus duduki, Lik Seno dengan halus mencegah : "Maaf ya Mas, kursi itu sudah ada yang memesan. Jika berkenan, kursi diseberang sana saja ya ".
Burung kedasih menciap terbang di udara kemarau. Ada keheningan setiap burung itu memekikan jerit. Seperti laung jeritan kehilangan. Benar saja, tak lama terdengar kabar lelayu yang menggema dari Toa mushola. Diberitakan salah satu warga desa selepas Isya telah meninggal dunia. Warga itu bernama Mustakim Bin Dulhadi. Pak Mus, orang desa memanggilnya. Pak Mus pelanggan setia warkop Lik Seno.
Sejak kepergian pak Mus hari itu, Lik Seno tetap menaruh satu kursi kosong dan meja di sudut belakang dengan pemandangan jendela terbuka. Melarang dengan halus pengunjung yang ingin duduk menikmati kopi dan pisang goreng disana. Lik Seno melakukan itu sebagai penghormatan dirinya atas rasa kehilangan.
Entah sampai kapan. Mungkin setelah 7 hari kematiannya. Atau setelah 40 hari atau kah 100 hari
?
Meski selama ini tak saling banyak bercerita, kehadiran Pak Mus pada tiap senja di warungnya, telah menumbuhkan rasa kasihan sekaligus rasa hormat pada sosoknya yang ramah dan tenang. Sosoknya yang sahaja meski pernah bekerja di sebuah lembaga terpandang di kota.
Lik Seno mengingat sepenuh seluruh dalam buncah rasa haru. Senantiasa mengingatnya. Saat Pak Mus berkata di awal-awal datang ke warung kopinya :
" Kadang orang datang kesini bukan semata karena kopi dan pisang goreng nikmat yang disajikan, tetapi karena tempat ini membuat seseorang merasa tak sendirian".
Kalimat itu menelusup ke tubir batin terdalamnya. Semacam penguat penyemangat, betapa menjadi penjaga warung kopi seperti dirinya, bisa juga sangat berharga pada penilaian orang-orang yang singgah datang.
Kursi kosong itu menjadi penanda ingatan bahwa beberapa pertemuan kecil
meninggalkan jejak kenangan yang lebih besar daripada yang kita bayangkan. Sebagai senja yang meninggalkan rasa hangat pada diam. Pada senyum Pak Mus yang tak pernah purba, tak pernah lekang.
🌿 Karawang, 2026