ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

Warisan Sujud Makdhe

Warisan Sujud Makdhe

Rumpun pohon bambu dibelakang rumah bergaya Limasan yang tak jauh dari jalan Trans Pantura Tegal itu, saling bergesekan. Membunyikan derit dan kesiur angin pada ranting-ranting kecilnya, yang bertekstur kesat berkilat. Saat angin kencang, hembusan sejuknya akan mengisis masuk ke rumah, melalui kisi-kisi jendela dan pintu rumah. Seperti angin hasil kibasan kipas kecil anyaman kulit bambu segi empat bergagang, yang diarahkan Makdhe ke tubuh keriputnya. Juga sesekali mengibat ke tubuh mungilku, cucu perempuannya, ketika cuaca sedang gerah, menunggu hujan yang tak kunjung tiba.

 

Di rumah peninggalan kakek, Makdhe dan aku berdua tinggal. Sawah beberapa petak, cukup untuk menghidupi kebutuhan kami yang sederhana. Sekolahku yang masih di tingkat SMP, juga tak menuntut banyak biaya. Hanya bekal seadanya untuk jajan es Mambo saat cuaca sedang terik atau kue terang bulan ketika lapar, di warung Mak Nia depan sekolah..

 

Dibelakang rumah, tangan Makdhe yang masih lingkas cekatan menanam beberapa jenis sayuran. Ada ketela rambat. Aku paling suka daunnya. Dimasak sayur bening, rasa kuahnya yang hijau terasa segar dan manis saat lidah menyesap.   

Terong hijau juga tumbuh, ditanam di sepanjang pagar, dekat pintu dapur. Makdhe paling suka memasak terong hijau bakar. Dipadukan dengan sambal terasi, di siram kuah santan. 

 

Ada dua cobek terong bakar di meja makan setiap Makdhe menyajikannya . Yang bersambal disiram kuah santan untuk Makdhe.Satunya tak bersambal, buatku. Seperti siang itu, sepulang sekolah.

" Nok, ini terong bakarnya. Ayo makan "

Nok adalah panggilan kesayangan Makdhe untukku. Makdhe menyorongkan cobek tanah liat berisi terong bakar yang sudah di bejek, berkuah santan, tanpa sambal. Hanya ditaburi sedikit garam. Makdhe tahu, sambal tidak cocok di perutku yang manja. Lambungku akan langsung mulas dan melilit-lilit jika ada rasa pedas yang masuk ke organ pencernaan. Di piring, nasi hangat mengepulkan uap dengan toping telur dadar gurih kesukaanku. 

 

Jika malam, kami berdua tidur dikamar besar. Kamar dengan tempat tidur yang terbuat dari rangka besi, kasur empuk yang berisi kapuk pohon Randu. Disekeliling ranjang terpasang kelambu. Beberapa bulan kasur akan mengeras, Makdhe biasanya memanggil Mak Yani ke rumah untuk mengganti isinya dengan kapuk baru. Sedang kelambu dipasang, untuk kami berlindung dari gigitan nyamuk  yang bersarang di kebun dan selokan.

 

Malam itu, Makdhe duduk ditepi ranjang memperhatikanku. Bibirnya mengulas senyum sekilas. Aku pura-pura tertidur. Lama sekali sepasang mata yang dinaungi dahi penuh lekukan keriput itu, menatapku. Perlahan tangannya membelai rambut sebahu-ku. 

" Makdhe masih sangat ingin membersamaimu, Nok. Makdhe masih sangat ingin melihatmu tumbuh,... lebih lama " usapan halus menyapu kedua pipiku. Tubuh tuanya, perlahan merebah disampingku. Memelukku.

Nafasnya yang lirih, membuai masuk ke telinga kananku. Seperti buai angin lembut yang meninabobokanku, menuju lelap.

 

Paginya, adzan Subuh yang di kumandangkan Lik Wiro dari arah mushola perempatan jalan desa, membangunkan lelapku. Seperti biasa, aku bangun dengan Makdhe yang sudah tak berada disisi. Makdhe slalu bangun setengah empat. Mandi, lalu ke kamar belakang yang dijadikan tempat sholat. Disana bermuajahah dan bermunajat hingga subuh tiba. Berjalan kaki ke mushola mendekap sajadah dan mukena. Pulangnya menjerang air untuk membuat teh panas, merebus ubi atau singkong untuk sarapan. Lalu mengambil sapu lidi, menyapu halaman depan yang dirindangi pohon Mangga dan Nangka,yang daunnya setiap hari jatuh berserakan.

 

Tapi pagi itu, Makdhe tak kunjung pulang dari mushola. Meski langit di ufuk timur tlah mengedipkan warna perak berkilau. Burung Kutilang tlah riuh bercericit, berlompatan di dahan pohon pisang. Beberapa petani, tlah  memanggul cangkul pergi ke sawah dan ladang. Makdhe belum juga pulang. 

 

Bergegas langkah tubuh kecilku setengah berlari menuju mushola. Perasaan yang menukak penuh tanya. Benar saja, Mak Darmi menjelaskan saat bertemu di jalan, subuh tadi tak melihat Makdhe. Duh, hatiku langsung kencang berdegap. Ada bendungan di mata yang tiba-tiba hendak menumpah air bah . Aku berlari kembali ke rumah diikuti Mak Darmi. Membuka pintu, menuju kamar belakang. Tak mungkin Makdhe tidur. Tak mungkin Makdhe menyelisihi kalimatnya sendiri. " Jangan tidur ya Nok, setelah Subuh. Hidupmu nanti sempit "

 

Dadaku tersirap. Mulutku tercekat. Tampak Makdhe dalam posisi bersujud. Aku dan Mak Darmi bersimpuh memeluk. Tubuhnya masih hangat, tapi nafasnya tlah pergi.

Hatiku luruh, perasaanku runtuh. Hanya memandangi wajahnya yang tenang, seolah ia hanya tertidur. Hanya istirahat setelah beribadah di sepanjang hidupnya.

 

Makdhe adalah orang yang paling setia pada do'a. Bibirnya slalu melafal nama Tuhan. Kadang ketika terbangun, aku pindah ke kamar belakang. Menemani Makdhe yang tengah khusyuk di hamparan sajadah. Merebah di tikar, merasakan keheningan yang langut. Ikut larut. 

 

Makdhe pernah berujar padaku, sepulang menghadiri pengajian yang di isi ceramah seorang Kyai ternama dari ibukota : 

"Orang yang saleh dan salehah dalam beragama, tidak akan pernah benar-benar meninggalkan kita. Mereka tinggal dalam doa-doa yang mereka ajarkan, dalam sujud yang mereka wariskan".

 

Kini, puluhan tahun setelah masa berlalu, setiap Subuh, aku bangun lebih awal. Bukan karena aku sekuat Makdhe, tapi karena aku rindu. Karena aku ingin melanjutkan kebiasaan sujud yang dia wariskan. Kusebut namanya, dalam do'a-do'a. Seperti dulu dia juga mendoakanku perihal yang baik-baik untuk kehidupan dan masa depan.

 

Aku baru mengerti, kehilangan Makdhe bukan saja tentang raganya yang tlah tiada. Juga kehilangan nasi hangat, dapur yang berasap, pagi yang tenang. 

Aku baru mengerti, kehilangan bukan tentang kepergiannya saja. Juga kehilangan saat ingin berbagi cerita sederhana, lalu sadar tak ada lagi telinga yang mendengar dengan sabar. Kehilangan adalah rindu yang tak tahu alamat, dimanakah kita bisa menemukannya lagi.

 

🌿Karawang, 2026/Dinoto Latief

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
25 Apr 2026 · 10x
Antara Bara dan Hidayah
Antara Bara dan Hidayah
24 Apr 2026 · 10x
Pria Tua di Warkop Lik Seno
Pria Tua di Warkop Lik Seno
24 Apr 2026 · 325x
Lidah Beracun
Lidah Beracun
23 Apr 2026 · 30x
Pohon itu Tumbang
Pohon itu Tumbang
20 Apr 2026 · 52x
Istana Cahaya untuk Mas Khum
Istana Cahaya untuk Mas Khum
17 Apr 2026 · 83x
✍️Kenangan : Sepeda Jengki Tua
✍️Kenangan : Sepeda Jengki Tua
19 Mar 2026 · 159x
Aku Bukan GURU, Hanya TEMAN BERMAIN
Aku Bukan GURU, Hanya TEMAN BERMAIN
28 Feb 2026 · 52x